Mengenal Sejarah dan Cikal Bakal Multimedia di Museum

Mengenal Sejarah dan Cikal Bakal Multimedia di Museum

2018-07-06T07:09:00+00:00

Pada musim panas 1992, sekelompok profesional di bidang museum melakukan pertemuan the International Council of Museums (ICOM) triennial meeting di Quebec City, Kanada memulai diskusi berkelanjutan tentang potensi penggunaan data multimedia dalam dokumentasi museum. Awalnya, diskusi terfokus pada berbagi informasi tentang proyek perintis yang menggunakan alat berbasis komputer baru untuk menangkap dan mengkomunikasikan informasi multi-media tentang koleksi museum. Integrasi data suara dan gambar ke dalam basis data koleksi museum menawarkan kesempatan baru untuk merekam kedalaman informasi tentang karya di koleksi museum, dan menafsirkan signifikansinya. Alat-alat interpretatif multimedia interaktif baru juga menyediakan cara-cara mengkomunikasikan konteks dan makna yang kaya yang diwujudkan oleh artefak museum.

Multimedia sebagai teknologi informasi menyajikan pengunjung museum dengan lebih dari data yang diformat dan informasi tekstual. Ini mencakup multimedia interaktif, hypermedia, aplikasi bergambar, video digital, grafik komputer, virtual reality, dan display interaktif yang dikontrol oleh komputer dan pameran aktif. Ini tidak termasuk varian non-interaktif, komputerisasi proyeksi mapan, dukungan audio dan sistem animatronik.

Penerapan Multimedia di Museum mengkaji integrasi aplikasi multimedia berbasis komputer ke dalam aktivitas tradisional museum, memetakan isu-isu yang terlibat dalam mengembangkan dan mengimplementasikan aplikasi multimedia.

Penerapan Multimedia di Museum mengungkapkan potensi multi media untuk melestarikan dan mengkomunikasikan pengetahuan yang terkandung dalam koleksi museum. Namun demikian, museum arsip multimedia yang dapat digunakan kembali akan bergantung pada fondasi standar teknis dan konten untuk memastikan interoperabilitas sistem dan inter-changablity data. Tanpa kerangka kerja standar umum, tidak mungkin untuk memanfaatkan potensi integrasi yang ditawarkan oleh jaringan komunikasi.

Namun kini, segala hal yang didiskusikan di atas telah benar-benar berhasil diterapkan pada museum-museum termasuk di Indonesia sendiri, seperti contohnya pada Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Magelang, dan museum Bank Indonesia (BI). tidak bisa dipungkiri untuk saat ini multimedia memang wajib diimplementasikan pada museum, karena multimedia merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari manusia saat ini termasuk anak-anak, contohnya media sosial, mobile game, film dan banyak lagi. Sehingga dengan diterapkannya multimedia pada museum, museum dapat lebih diterima oleh masyarakat.

About My Work

Phasellus non ante ac dui sagittis volutpat. Curabitur a quam nisl. Nam est elit, congue et quam id, laoreet consequat erat. Aenean porta placerat efficitur. Vestibulum et dictum massa, ac finibus turpis.

Recent Works

Recent Posts